About Me

Foto saya
Call me everything you want, because I'm unique :D

Sabtu, 17 April 2010

I will always love you - whitney houston

If I should stay,
I would only be in your way.
So I'll go, but I know
I'll think of you ev'ry step of the way.

And I will always love you.
I will always love you.
You, my darling you. Hmm.

Bittersweet memories
that is all I'm taking with me.
So, goodbye. Please, don't cry.
We both know I'm not what you, you need.

And I will always love you.
I will always love you.

(Instrumental solo)

I hope life treats you kind
And I hope you have all you've dreamed of.
And I wish to you, joy and happiness.
But above all this, I wish you love.

And I will always love you.
I will always love you.
I will always love you.
I will always love you.
I will always love you.
I, I will always love you.

You, darling, I love you.
Ooh, I'll always, I'll always love you.

What about love

I've been lonely, I've been waiting for you
I'm pretending and that's all I can do
The love I'm sendin'
Ain't making it through to your heart

You've been hidin', never letting it show
Always trying to keep it under control
You got it down and you're well on your way to the top
But there's something that you forgot

What about love?
Don't you want someone to care about you?
And what about love?
Don't let it slip away
What about love?
I only want to share it with you
You might need it someday

I can't tell you what you're feeling inside
And I can't sell you what you don't want to buy
Something's missing, you got to look back on your life
You know something here just ain't right

What about love?
Don't you want someone to care about you?
What about love?
Don't let it slip away
What about love?
I only want to share it with you

What about love?
Don't you want someone to care about you?
What about love?
Don't let it slip away
But what about love?
I only want to share it with you

Oh no
Ohh ohh, oh what about love?
Yeah
Ooh ooh hoo
What about love?
Love, love, love
What about, what about love?
Ooh hoo hoo hoo

Jumat, 02 April 2010

Jika aku harus

Jika aku harus berenang di laut untuk mendapatkan apa yang aku inginkan,
aku akan belajar bagaimana berenang, dan aku akan mengarungi lautan itu.
Jika aku harus mendaki gunung tertinggi untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, aku akan belajar cara memanjat, dan aku akan memanjat gunung itu.
Jika aku harus menyelam samudra terdalam untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, maka aku akan belajar bagaimana cara menyelam, dan aku akan menyelami samudra itu.
Jika aku kecewa karena hal-hal yang tidak tampak seperti yang aku inginkan,
maka aku akan belajar bagaimana menerimanya, dan aku akan mencoba untuk menerimanya.
Setidaknya sekarang aku telah mengalami bagaimana berenang, mendaki dan menyelam dan juga bagaimana untuk menerima segala sesuatu yang berasal dari usahaku..
Kemudian, aku akan mencoba kembali untuk melakukan lebih baik. Demi apa yang aku inginkan…
Aku akan datang.. dan mencapai semua itu..  Semoga saja keinginan ini adalah baik… dan untuk kebaikan

Selasa, 09 Februari 2010

Kisah Cinta Seorang Anak

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki,


wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku,

memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini

memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain

saja.



Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya

membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun

melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya

menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga

Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan

membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.



Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa

stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu

melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu

menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun, Sam meninggal

dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi

semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya

mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya

pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang

sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya

tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar

hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak

kejadian itu.



Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia

Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat

buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah

sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah

berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah

perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi

yang mengingatnya.



Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti

sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari

betapa jahatnya perbuatan saya dulu.tiba-tiba bayangan Eric melintas

kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric. Sore

itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad

dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Mary, apa yang

sebenarnya terjadi?”



“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal

yang telah saya lakukan dulu.” aku menceritakannya juga dengan

terisak-isak. Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah

memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis

saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang.

Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari

hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya

tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric…



Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada

sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya

mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali

potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan

Eric sehari-harinya. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap

sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.

Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala

ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.



“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”



Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal

dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?”



Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh tega, Tahukah kamu, 10

tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus

menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega,

saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya.

Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah,

namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan

yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis

setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”



Saya pun membaca tulisan di kertas itu…



“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama

Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji

kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”



Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan…

katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang!

Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”



Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.



“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric

telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya

sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan

di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut

apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya

ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari

belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang

lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana.”